JUJUR, CERDAS, MUDA, AMANAH DAN BERANI

18 07 2008

Kaum muda selalu saja menempati sebuah posisi yang strategis, oleh karena keberadaannya selalu diperhitungkan dan menjadi harapan serta tumpuan bagi proses peradaban umat manusia. Tidak saja saat ini namun masa depan sebuah bangsa, yang menginginkan kebermartabatan, keadilan dan kemakmuran serta cita-cita yang luhur untuk kemanusiaan.

Indonesia sebagai bangsa yang besar, merasakan kehadiran pemuda dalam setiap nafas dan kehidupan rakyat Indonesia. Bagaimana peran pemuda dijaman penjajahan memberikan makna, kesan dan ingatan yang sungguh mendalam dan sangat berarti saat itu, dengan penyatuan visi kebangsaannya secara universal dalam bingkai dan semangat nasionalisme. Betapa eksistensinya yang besar bagi perubahan di negeri ini dan potensinya yang dimiliki oleh kaum muda dalam menggerakkan dan menggelorakan spirit nasionalisme rakyat kita, yang menginginkan kemerdekaan sejati, terlepasnya belenggu-belenggu kenistaan, keterbelakangan dan pembodohan rakyat Indonesia atas cengkraman penjajah rejim kolonial. Yang bukan saja merugikan dan merendahkan harkat dan martabat manusia dibumi pertiwi namun juga menghempaskan nilai-nilai sisi kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati bangsa-bangsa didunia ini.

Secara historis tersebut cukup membuktikan geliat politik kaum muda, yang hingga saat ini masih terus dan tetap membara dalam setiap perubahan jaman. Pengalaman sejarah bangsa akan terus dipenuhi oleh jiwa semangat pembaharu, sebagai agent of change, agent of control, predikat yang dipunyai kaum muda yang takkan hilang ditelan jaman. Menghantarkan peradaban manusia kepada nilai-nilai hakiki kemanusiaan yang takkan dinilai oleh sekedar materi dan lingkaran kekuasaan. Era kolonial pemuda memiliki tekad dan kemampuan keras agar bebas dari penjajahan, ditahun-tahun revolusi pemuda menjadi pelopor terbentuknya negara Indonesia, pergantian rejim apapun, pemuda selalu menyertai dan mewarnai dinamika politik bangsa ini. Era reformasi yang sekarang kita rasakan tidaklah lepas dari eksistensi kaum muda dan mahasiswa. Pengalaman itu mungkin saja akan terus disuarakan dan dikumandangkan bagi pemuda, oleh karena sebagai gerak motivasi perjuangan kaum muda itu adalah untuk melawan setiap bentuk kesewenang-wenangan penguasa yang tirani terhadap ketertindasan rakyat, keprihatinan rakyat yang masih terjebak dalm kelaparan dan kemiskinan yang mendera mereka, kebobrokan sistem pemerintahan yang telah mapan dan mentalitas elite penguasa yang cenderung korup dan telah bobrok. Motivasi ini tumbuh dan berkembang sejalan dengan realitas dan perjalanan sosial historis anak bangsa.

Kecondongan pandangan kaum muda yang selalu bergerak dan berpihak pada kaum terpinggirkan atau kaum mustadh’afin itu akan terus menyirami spirit dan naluri perjuangannya dalam aneka persoalan kehidupan. Ketidakadilan sosial atas pembodohan masyarakat didalam sistem yang dikendalikan oleh penguasa korup senantiasa terus digugat dan dikritisi secara massif dan progressif., semuanya tidak lain untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat dan perbaikan sistem secara adil. Secara politik, posisi kaum muda dihadirkan pada pihak oposan, pihak yang mengkritisi setiap kebijakan yang dinilai menyengsarakan rakyat. Revolusi kemerdekaan yang jelas perjuangannya untuk memperebutkan hak bangsa secara mandiri dari penjajah ataupun setiap pergantian rejim yang melepaskan belenggu penindasan penguasa dari ketidakadilan ataupun perguliran reformasi yang merupakan peralihan rejim dan sistem dari otoritarianisme menuju demokrasi yang menuntut keterbukaan, kebebasan berpendapat, penegakkab supremasi sipil dan hukum maupun kesejahteraan masyarakat adalah bagian dari torehan perjuangan kaum muda.

Sebagai sarana penyaluran aktivitas kepemudaan dibutuhkan kelembagaan/institusional yang mampu memberi bentuk atas ruh semangat itu. Kaum muda dari kalangan intelektual, mahasiswa, kaum-kaum terpelajar berperan sebagai sumbu setiap aktivitasnya. Predikat sebagai generasi penerus bangsa tentu tidak mudah bagi mereka. Saat ini kehadirannya diharapkan memberi

solusi atas permasalahan bangsa yang semakin kompleks. Kita lihat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, yang dinilai hanya memiliki jangka pendek, tidak memberi jaminan kesejahteraan social dan rasa aman serta pragmatis sifatnya, mereka hadir berada pada garda depan dalam menyikapi dan mengkritisinya. Kondisi budaya yang mapan dan mengakar dimasyarakat yang bersifat patriarkhi, monolistik, kaku dan korup mereka turut memperjuangkan dalam merevitalisasi, menciptakan budaya yang demokratis, plural bahkan mendekonstruksikan tatanan budaya uang sifatnya korup, monopolistic dan merusak.

Idealisme pemuda yang tercipta dari sbuah lingkungan akademis dan intelektual turut menumbuhkan pemikiran yang jernih lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok (group interest) serta menjadikan kemadirian sikap dan tindakan yang tidak terkooptasi oleh kemauan ataupun hasrat mencoba masuk dan terjerat dalam lingkaran kekuasaan. Optimismenya membangkitkan dan memberi pengharapan yang pasti. Pengetahuannya memberikan pencerahan dan pemahaman yang substansial akan persoalan yang dihadapi rakyat. Walaupun memang banyak perbedaan yang dihadapi oleh mereka sendiri, tapi hal ini tidak menjadi luntur dan lenyap atas visi dan cita-citanya yang dibangunnya. Hal itu pula kemudian mereka dapat bertahan dan terus eksis ditengah-tengah hempasan dampak arus modernisasi yang ditandai oleh budaya hidup dalam kesenangan sesaat (hedonisme), pola hidup instan yang ingin meningkatkan tingkat dan status ekonominya, yang kesemuanya itu merontokan nilai-nilai idealisme dan menggunakan cara pandang sempit dan selalu diukur diatas materi.

Sungguh ironis, pada satu sisi kesulitan-kesulitan yang mendera rakyat kecil yang belum tertangani dan pemuda diharapkan kehadirannya minimal keberpihakan terhadap kaum miskin yang lemah, disisi lain mungkin saja ada dari mereka yang menodai pengharapan rakyat dengan berperilaku hedonis, berpola hidup instan, dan pragmatis serta haus terhadap kekuasaan, demi meneguk kepuasan materiil. Hal ini kemudian seakan peran dan eksistensinya tercerabut dari prinsip dan nilai dasarnya yang seharusnya mereka pegang teguh. Bukan tanpa alasan, ketika pemuda yang seharusnya menjadi lokomotif perubahan dan perjuangan rakyat dalam membebaskan belenggu keterbelakangan disetiap sisi kehidupan seolah menandakan terkikisnya daya kritis, matinya daya dobrak inteleknya yang pada akhirnya mengarah kepada kecenderungan bersikap oportunis, lunak dan menjadi arogan.

Dinamika kehidupan pemuda dalam eksistensinya, menyuguhkan pelbagai pertentangan ideologi, egoisme kelompok, klaim-klaim kebenaran yang dianutnya. Hal yang kemudian menjadi jurang pemisah yang tajam tersegmentasinya pergerakan kaum muda dan mahasiwa dalam menyuarakan kepentingan rakyatnya. Saatnya pemuda harus mengembalikan citranya sebagai agent of change, agent of control, dan lebih berpihak pada kaum lemah terpinggirkan, agar mereka terus eksis, disegani setiap generasi dan didambakan masyarakat bahkan diperhitungkan oleh penguasa. Menancapkan kembali daya kritis, intelektualnya dalam mewujudkan masyarakat madani, sejahtera, adil dan makmur.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: